Budaya

Nama yang Tercatat Sejak Abad ke-14, Bagaimana Perjalanan Taliwang di Barat Sumbawa?

Menelusuri jejak sejarah Taliwang di Barat Sumbawa, dari catatan Nagarakretagama hingga Kedatuan Taliwang dalam struktur Kesultanan Sumbawa dan Kamutar Telu.

AF
Aidil Fanar
Redaksi · 9 Agustus 2026 pukul 09.08 WITA
Nama yang Tercatat Sejak Abad ke-14, Bagaimana Perjalanan Taliwang di Barat Sumbawa?
Reka ulang suasana kehidupan dan peperangan pada masa lampau di Taliwang, yang digunakan sebagai ilustrasi visual dalam artikel sejarah.— Sumber Foto: Istimewa / Dokumentasi reka ulang.
SUMBAWA BARAT — Jauh sebelum Taliwang dikenal sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat, nama wilayah ini telah memiliki jejak dalam perjalanan sejarah Pulau Sumbawa.

Salah satu catatan tertulis yang menyebut nama Taliwang terdapat dalam Kakawin Nagarakretagama, karya Mpu Prapanca yang disusun pada 1365 Masehi. Dalam Pupuh 14, Taliwang disebut bersama sejumlah nama wilayah di kawasan Sumbawa, di antaranya Dompo, Sapi, Sang Hyang Api, Bima dan Seran. (Sumber: Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 14)

Penyebutan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting bahwa nama Taliwang telah dikenal dalam catatan Nusantara pada masa lampau. Namun, catatan tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa Taliwang berada di bawah pemerintahan langsung Majapahit. Hubungan politik pada masa itu masih perlu dibaca bersama sumber-sumber sejarah lainnya.

Seiring perjalanan waktu, kawasan Taliwang kemudian muncul dalam perkembangan politik kerajaan-kerajaan lokal di Pulau Sumbawa. Wilayah barat Sumbawa sendiri memiliki sejumlah pusat kekuasaan dengan struktur dan hubungan politik yang berkembang pada zamannya.

Memasuki masa Kesultanan Sumbawa, kedudukan Taliwang menjadi lebih jelas. Taliwang tercatat sebagai salah satu dari tiga kedatuan yang dikenal sebagai Kamutar Telu, bersama Kedatuan Seran dan Kedatuan Jereweh. (Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Ensiklopedia Sumbawa – Lahirnya Kesultanan Sumbawa)

Kesultanan Sumbawa sendiri resmi berdiri pada 30 November 1648. Wilayah kekuasaannya pada masa itu membentang dari kawasan Empang dan Tarano hingga Jereweh dan Sekongkang. Dalam struktur tersebut, Taliwang memiliki posisi sebagai salah satu kedatuan yang memiliki hubungan dengan pusat kekuasaan Kesultanan Sumbawa. (Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa)

Posisi Taliwang dalam sejarah Kesultanan Sumbawa juga terlihat dari catatan mengenai tokoh-tokoh yang pernah memegang kekuasaan. Salah satunya adalah Datu Taliwang yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa pada 1725 dan memerintah hingga 1731. (Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Ensiklopedia Sumbawa – Sultan-Sultan Sumbawa)

Dalam struktur tradisional tersebut, istilah Kamutar Telu bukan sekadar nama administratif. Ia merujuk pada tiga kedatuan yang memiliki posisi dalam tata pemerintahan Kesultanan Sumbawa, yaitu Taliwang, Seran dan Jereweh.

Perjalanan sejarah kemudian membawa perubahan terhadap struktur pemerintahan tradisional tersebut. Pada 1920, kedatuan dalam Kamutar Telu mengalami perubahan status menjadi kademungan seiring perubahan sistem pemerintahan. (Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Ensiklopedia Sumbawa – Pemerintahan Sultan)

Meski struktur pemerintahan terus berubah, jejak Kamutar Telu tetap menjadi bagian dari identitas sejarah masyarakat di wilayah barat Sumbawa.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, keberadaan Lembaga Adat Tana' Samawa Kamutar Telu kemudian memperoleh dasar hukum melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 4 Tahun 2019. Peraturan tersebut mengatur mengenai lembaga adat serta upaya perlindungan dan pelestarian adat dan budaya Tana' Samawa. (Sumber: Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 4 Tahun 2019)

Dari catatan abad ke-14 hingga struktur kedatuan pada masa Kesultanan Sumbawa, perjalanan Taliwang memperlihatkan adanya lapisan sejarah yang panjang.

Namun, sejarah Taliwang tidak seharusnya dibangun hanya dari satu sumber atau cerita yang berkembang dari generasi ke generasi. Manuskrip, catatan kerajaan, arsip, penelitian sejarah, peninggalan budaya dan tradisi masyarakat perlu dibaca secara beriringan.

Karena itu, penyebutan Taliwang dalam Nagarakretagama dapat diposisikan sebagai salah satu jejak tertulis mengenai nama Taliwang pada abad ke-14. Sementara mengenai bentuk hubungan politik Taliwang dengan kekuatan besar pada masa tersebut, diperlukan penelitian dan pembandingan sumber yang lebih luas.

Sejarah Taliwang pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah nama yang tercatat dalam naskah lama. Di baliknya terdapat perjalanan masyarakat, perubahan kekuasaan, adat, budaya dan identitas yang terus berkembang hingga hari ini.

Taliwang telah melewati berbagai zaman. Dari nama yang tercatat dalam sumber abad ke-14, kemudian menjadi salah satu kedatuan dalam Kamutar Telu, hingga menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat pada masa sekarang.

Masih banyak bagian dari perjalanan tersebut yang perlu ditelusuri.

Sebab sejarah bukan tentang membuat masa lalu terdengar lebih besar dari kenyataannya. Sejarah adalah tentang menemukan jejak, memeriksa sumber, dan memahami masa lalu berdasarkan bukti yang tersedia.

SUMBER REFERENSI:
1. Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 14.
2. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Ensiklopedia Sumbawa.
3. Kesultanan Sumbawa, Sejarah Kesultanan Sumbawa.
4. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 4 Tahun 2019.
5. Dewan Pers, Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

WAJAH PULAU SUMBAWA
Suara Sumbawa untuk Negeri
www.wajapulausumbawa.com

Galeri Foto

Komentar

Komentar dimoderasi sesuai pedoman media siber.

Memuat komentar…