MOTIVASI

Perjalanan Hidup Mehmed Aidil, Dari Masa Sulit hingga Kembali ke Sumbawa Barat

Dari masa sulit dan perantauan, Mehmed Aidil tumbuh sebagai YouTuber, kreator, hingga pegiat media yang kembali ke Sumbawa Barat untuk membangun Wajah Pulau Sumbawa.

AF
Aidil Fanar
Redaksi · 14 September 2026 pukul 04.25 WITA
Perjalanan Hidup Mehmed Aidil, Dari Masa Sulit hingga Kembali ke Sumbawa Barat
Mehmed Aidil saat menjalani podcast outdoor, dan dokumentasi ketika pernah mengalami masa sulit hingga terlantar di jalanan Tanjung Pinang.— Foto : Istimewa

Sumbawa Barat,WPS — Tidak banyak orang di kampung halaman yang mengetahui perjalanan panjang Mehmed Aidil sebelum namanya dikenal melalui dunia digital, konten kreatif, dan jurnalistik.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar perjalanan hidupnya ia jalani jauh dari kampung halaman. Ia juga tidak banyak menceritakan masa lalunya kepada orang-orang di kampung. Karena itu, ketika namanya mulai dikenal, banyak yang hanya mengenal sosok Mehmed Aidil dari karya dan aktivitasnya saat ini.

Padahal, jauh sebelum berada di balik kamera, membangun media, dan dikenal sebagai King Mehmed, ia telah melewati perjalanan yang panjang.

Nama aslinya adalah Aidil Fanar, sementara nama kecilnya Rahul Ferio Karniel Barariwu.

Mehmed Aidil merupakan putra dari Yakub Barariwu Berasal Dari Timor Leste dan Darmiati, yang berasal dari Desa Lampok. Ia berasal dari keluarga lima bersaudara yang tumbuh dalam perjalanan keluarga yang tidak sederhana. Sebenarnya, kedua orang tuanya memiliki enam anak, namun anak nomor lima meninggal dunia.

Marga Bara Riwu berasal dari garis keturunan ayahnya. Dalam cerita keluarganya, terdapat garis keturunan dari wilayah Timur-Timur atau Timor Leste dan Sabu, serta cerita mengenai garis keturunan Portugis dalam keluarga.

Namun, kisah Mehmed Aidil bukan hanya tentang nama dan perjalanan karier. Ada masa kecil, tekanan, kehilangan, pekerjaan kasar, penipuan, perantauan, dan keberanian untuk terus berjalan yang menjadi bagian dari proses tersebut.

Saat berusia sekitar lima tahun, Mehmed Aidil kehilangan ayahnya, Yakub Barariwu.

Sekitar dua tahun kemudian, ketika usianya masih tujuh tahun, sang ibu, Darmiati, berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja.

Aidil kemudian dititipkan kepada keluarga dari pihak ibunya di kampung.

Kehidupan dalam lingkungan baru tersebut bukan sesuatu yang langsung bisa ia jalani dengan mudah. Ia mengaku tidak terlalu terbiasa dengan lingkungan keluarga dari pihak ibu di kampung. Dalam prosesnya, ada tekanan dan ketidaknyamanan yang ia rasakan sebagai seorang anak.

Namun, kisah itu bukan tentang menyalahkan ibu ataupun keluarga dari pihak ibu.

Saat itu, Aidil masih sangat muda dan sedang berusaha memahami keadaan hidupnya sendiri.

Setelah menyelesaikan ujian kelas enam SD, ia akhirnya memilih pergi.

Ia pergi bukan karena sudah memiliki tujuan hidup yang jelas. Ia hanya tahu bahwa dirinya ingin mencari jalan lain dan mencoba bertahan dengan caranya sendiri.

Pada awal perjalanan meninggalkan kampung, Mehmed Aidil tidak langsung berjalan seorang diri.

Ia sempat pergi bersama abang nomor empatnya, Doni Bara Riwu.

Keduanya menjalani perjalanan bersama, meninggalkan kampung halaman dan mencoba mencari jalan hidup di tempat lain.

Perjalanan tersebut kemudian membawa mereka hingga ke Flores.

Namun, Flores menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Mehmed Aidil. Di tempat tersebut, ia dan sang abang akhirnya harus berpisah.

Doni Bara Riwu kemudian melanjutkan perjalanannya, dengan tujuan yang saat itu disebut akan menuju Makassar.

Sementara Mehmed Aidil mulai melanjutkan perjalanan seorang diri.

Sejak saat itu, ia mulai belajar menjalani kehidupan tanpa didampingi keluarga. Tidak ada kepastian mengenai pekerjaan, tempat tinggal, maupun ke mana perjalanan berikutnya akan membawanya.

Ia hanya memiliki keberanian untuk terus berjalan dan keinginan untuk bertahan.

Perpisahan dengan sang abang di Flores menjadi salah satu titik ketika perjalanan Mehmed Aidil sebagai seorang perantau mulai benar-benar ia jalani sendiri.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya hingga ke Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Di usia yang masih muda, ia mulai mengenal kehidupan dari sisi yang berbeda. Ia belajar bertahan, beradaptasi, dan menghadapi keadaan tanpa banyak pilihan.

Perjalanan kemudian membawanya ke Lombok Timur.

Di sana, ia masuk pesantren sekaligus bekerja sebagai buruh tembakau.

Belajar dan bekerja dijalaninya bersamaan.

Setelah keluarganya mengetahui keberadaannya, ia kemudian kembali ke Sumbawa Barat.

Aidil melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Brang Ene, sebelum kemudian menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di Surabaya.

Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut hingga perguruan tinggi.

Di Batam, ia menyelesaikan pendidikan jurusan Komunikasi di Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA).

Kehidupan perantauan membuat Mehmed Aidil terbiasa bekerja dengan berbagai cara.

Ia pernah menjadi buruh borongan. Dalam salah satu pengalaman pahitnya, ia bekerja sekitar enam bulan sebagai buruh borongan. Namun, uang pekerjaan yang dibawa dan dikelola oleh mandor justru dibawa kabur.

Aidil bukan mandor dalam pekerjaan tersebut. Ia adalah buruh yang bekerja di lapangan.

Akibat kejadian itu, ia berada dalam kondisi sulit dan sempat terlantar sekitar satu minggu.

Dalam keadaan tersebut, ia tidak memiliki banyak pilihan.

Ia bekerja sebagai tukang parkir, kuli bangunan, pekerja mebel, buruh tembakau, dan berbagai pekerjaan lainnya.

Baginya, pekerjaan pada masa itu bukan soal gengsi.

Yang penting adalah bisa bekerja dan bertahan hidup.

Dari pengalaman tersebut, ia belajar bagaimana rasanya mendapatkan uang dari kerja keras, kemudian kehilangan hasil kerja karena ulah orang lain, tetapi tetap harus bangkit dan mencari jalan berikutnya.

Salah satu jejak perjalanan Mehmed Aidil terlihat dalam dokumentasi dirinya ketika berada di Medan pada 2013.

Saat itu, ia masih muda dan sudah menjalani kehidupan perantauan.

Medan menjadi salah satu dari sekian banyak kota yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Perjalanan panjang itu juga membawanya ke Tanjung Priok.

Di sana ia kembali berhadapan dengan kehidupan perantauan yang penuh ketidakpastian.

Hingga akhirnya, ia mengambil keputusan untuk pergi ke Batam.

Tidak ada kepastian pekerjaan.

Tidak ada jalan yang sudah disiapkan.

Tidak ada jaminan bahwa kehidupan di tempat baru akan lebih mudah.

Ia hanya membawa keberanian dan tekad untuk mencoba.

Keputusan pergi ke Batam tanpa arah yang benar-benar pasti kemudian menjadi salah satu titik penting dalam kehidupannya.

Di Batam, ia tidak hanya membangun kehidupan dan bekerja, tetapi juga menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di bidang komunikasi di UNRIKA.

Selama kurang lebih 15 tahun, Mehmed Aidil menjalani kehidupan di berbagai daerah.

Ia pernah berada di Semarang, Yogyakarta, Batam, Jakarta, Bali, Palu, Aceh, Belawan, Medan, Sorong, Makassar, Samarinda, Banjarmasin, Banten, Cirebon, Nusa Penida, dan sejumlah daerah lainnya.

Namun, perjalanan itu tidak banyak diketahui oleh masyarakat di kampung halamannya.

Aidil memang memilih membatasi diri dalam berhubungan dengan sebagian orang di kampung.

Ia tidak banyak membuka cerita tentang kehidupan yang pernah dijalaninya.

Karena itu, ketika kemudian kembali ke Sumbawa Barat dan mulai dikenal melalui dunia digital, banyak orang hanya mengenalnya dari sosok yang mereka lihat saat itu.

Mereka tidak banyak mengetahui bahwa sebelumnya ia pernah hidup dalam kondisi sulit, berpindah-pindah daerah, menjadi buruh, tukang parkir, kuli bangunan, pekerja mebel, hingga pernah terlantar.

Perjalanan panjang itu berjalan dalam diam.

Baru ketika dirinya mulai dikenal publik melalui karya, sebagian cerita tersebut perlahan diketahui.

Setelah sekitar 15 tahun berada di Arab Saudi, sang ibu akhirnya kembali.

Pada 2018, Mehmed Aidil kembali bertemu dengan ibunya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarganya.

Setelah bertahun-tahun hidup terpisah, keduanya tentu membutuhkan proses untuk kembali membangun kedekatan.

Ada jarak yang terbentuk karena waktu.

Namun, pertemuan itu tetap menjadi momen ketika seorang anak akhirnya kembali bertemu dengan ibunya setelah menjalani perjalanan panjang.

Sekitar 2014, Mehmed Aidil mulai membangun karier sebagai YouTuber.

Karyanya berkembang hingga berhasil membangun audiens sekitar 200 ribu subscriber.

Dunia YouTube menjadi pintu awal yang membawanya lebih jauh ke dunia konten dan media digital.

Dalam perjalanan tersebut, ia berkenalan dengan Opick Tombo Ati, penyanyi legendaris yang kemudian mengajaknya ke rumah.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan hidupnya.

Sekitar 2018, Mehmed Aidil mulai lebih serius mendalami dunia jurnalistik, penulisan, penelitian, serta berbagai kegiatan magang.

Pengalaman sebagai kreator digital, ditambah pendidikan komunikasi yang ditempuhnya di Batam, menjadi bekal untuk memahami dunia informasi dan komunikasi secara lebih serius.

Ia mulai mempelajari bagaimana informasi dikumpulkan, ditulis, dikemas, dan disampaikan kepada masyarakat.

Pada masa pandemi COVID-19, Mehmed Aidil berada di Bali dan bekerja di PT Konta Perkasa Futures Bali.

Ia menangani bidang informasi dan teknologi digital dengan posisi sebagai manager atau pimpinan di bidang tersebut.

Pengalaman itu dijalaninya selama beberapa tahun.

Pada 2022, ia kemudian dipercaya sebagai CEO Beauty Care.

Pada 2024, Mehmed Aidil melanjutkan perjalanan profesionalnya sebagai General Manager PT 4 Putra Kusuma di Nusa Penida, yang bergerak di bidang snorkeling.

Sekitar enam bulan menjalani pekerjaan tersebut, ia kembali ke Batam.

Di sana, ia mendapat ajakan dari Xin Arnita Panjaitan untuk ikut menangani dan mengembangkan bidang digital dalam lingkup pekerjaannya.

Selain dunia digital dan jurnalistik, Mehmed Aidil juga pernah terlibat dalam pekerjaan komunikasi publik.

Di Batam, ia pernah menangani pekerjaan yang berkaitan dengan media dan hubungan masyarakat bersama jajaran PKB Batam.

Pada momentum politik 2024, kemampuan di bidang media sosial, komunikasi, dan strategi digital juga membawanya terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan Pilkada Bupati Karimun.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dan memberikan pemahaman lebih luas tentang komunikasi publik, pengelolaan media, strategi digital, dan bagaimana informasi diterima masyarakat.

Pada 2025, Mehmed Aidil kembali ke Sumbawa Barat.

Kali ini ia membawa pengalaman dari berbagai daerah, berbagai pekerjaan, dan dunia digital yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Ia mulai membuat konten yang mengangkat persoalan dekat dengan masyarakat.

Kondisi jalan, banjir, lingkungan, dan berbagai persoalan sosial menjadi bagian dari kontennya.

Ia kemudian mengembangkan konten eksplorasi terhadap bangunan-bangunan terbengkalai, termasuk lokasi yang dikenal masyarakat sebagai rumah angker.

Konten tersebut berkembang menjadi hiburan sekaligus menarik perhatian publik terhadap sejumlah tempat dan persoalan yang sebelumnya kurang diperhatikan.

Dari sana, popularitasnya berkembang.

Ia kemudian membuat film drama, konten hiburan, eksplorasi, motivasi, kegiatan sosial, dan berbagai karya digital lainnya.

Nama King Mehmed kemudian semakin dikenal, terutama di kalangan Gen Z, Gen Alpha, milenial, hingga masyarakat umum.

Setelah membangun audiens melalui berbagai karya digital, Mehmed Aidil tidak ingin semuanya berhenti pada personal branding.

Ia kemudian menggagas Wajah Pulau Sumbawa.

Wajah Pulau Sumbawa hadir melalui media online wajahpulausumbawa.com dan platform WPS TV.

Sebagai inisiator dan pimpinan, Mehmed Aidil membawa pengalaman jurnalistik, komunikasi, digital, teknologi, serta pengalaman hidupnya untuk membangun media yang berfokus pada Pulau Sumbawa.

WPS diarahkan menjadi ruang informasi yang dekat dengan masyarakat.

Cerita masyarakat, persoalan daerah, budaya, tradisi, pendidikan, lingkungan, olahraga, ekonomi, hingga berbagai peristiwa di Pulau Sumbawa menjadi bagian dari perhatian media tersebut.

Semangat yang dibawa adalah “Suara Sumbawa Untuk Negeri.”

Perjalanan Mehmed Aidil tidak dibentuk dalam satu malam.

Ada keluarga yang terdiri dari enam anak, dengan satu saudara yang meninggal dunia, sehingga mereka tumbuh sebagai lima bersaudara.

Ada seorang anak yang kehilangan ayah pada usia lima tahun.

Ada perpisahan dengan ibu sejak usia tujuh tahun.

Ada lingkungan keluarga dari pihak ibu yang belum terbiasa ia jalani.

Ada tekanan yang akhirnya membuatnya memilih pergi setelah menyelesaikan ujian kelas enam SD.

Ada perjalanan bersama abang nomor empat, Doni Bara Riwu, hingga Flores.

Ada perpisahan di Flores, ketika sang abang melanjutkan perjalanan yang disebut menuju Makassar, sementara Mehmed mulai berjalan sendiri.

Ada kehidupan di sekitar Pelabuhan Poto Tano.

Ada pesantren dan pekerjaan sebagai buruh tembakau.

Ada kehidupan di jalan dan berbagai tempat perantauan.

Ada pekerjaan sebagai buruh borongan, ketika mandor membawa kabur uang pekerjaan.

Ada masa terlantar sekitar satu minggu.

Ada pekerjaan sebagai tukang parkir.

Ada kuli bangunan.

Ada pekerjaan mebel.

Ada Medan pada 2013.

Ada Tanjung Priok.

Ada keputusan menuju Batam tanpa arah yang pasti, tetapi dengan keyakinan dan tekad.

Ada pendidikan di SMPN 1 Brang Ene, sekolah di Surabaya, hingga perguruan tinggi jurusan Komunikasi di UNRIKA Batam.

Ada perjalanan panjang ke berbagai daerah selama kurang lebih 15 tahun.

Ada YouTube dan sekitar 200 ribu subscriber.

Ada pertemuan dengan Opick Tombo Ati.

Ada jurnalistik, penelitian, dunia digital, pekerjaan profesional, pariwisata, komunikasi publik, dan pengalaman di berbagai bidang.

Ada pula masa ketika semua perjalanan tersebut hampir tidak diketahui oleh orang-orang di kampung halamannya.

Dan akhirnya, ada keputusan untuk kembali.

Kembali ke Sumbawa Barat.

Membangun karya.

Membangun ruang informasi.

Bagi Mehmed Aidil, masa lalu bukan sesuatu yang harus digunakan untuk meminta simpati.

Masa lalu adalah bagian dari proses.

Kesulitan, kegagalan, penipuan, pekerjaan kasar, perantauan, dan berbagai pengalaman yang pernah dilewati menjadi bekal untuk memahami kehidupan dari dekat.

Kini, perjalanan tersebut diteruskan melalui Wajah Pulau Sumbawa, sebuah media yang dibangun dengan semangat menghadirkan informasi digital yang berkualitas dan tepat sasaran bagi masyarakat Pulau Sumbawa.

Dari seorang anak yang dahulu harus mencari jalannya sendiri, dari perjalanan bersama sang abang hingga Flores, kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri ke berbagai daerah di Indonesia, Mehmed Aidil akhirnya kembali ke tanah kelahirannya.

Kali ini bukan sekadar untuk kembali.

Tetapi untuk berkarya.

Untuk membangun ruang informasi.

Dan untuk ikut menjaga cerita dari tanah yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Wajah Pulau Sumbawa — Suara Sumbawa Untuk Negeri.

King Mehmed — mencerdaskan anak bangsa.

Komentar

Komentar dimoderasi sesuai pedoman media siber.

Memuat komentar…