TAMBANG RAKYAT TALIWANG: URAT NADI EKONOMI WARGA DI TENGAH KEPUNGAN RISIKO
Liputan menyoroti aktivitas tambang rakyat sebagai bagian dari mata pencaharian warga, mulai dari penambang, buruh, hingga pengangkut material, serta bagaimana aktivitas tersebut menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

TALIWANG, WPS — Aktivitas tambang rakyat di Desa Lamunga, Kecamatan Taliwang, serta Lingkungan Perjuk, Kelurahan Bertong, Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat, tidak hanya berbicara tentang gelondong, tong pemurnian, dan batuan mineral. Di balik aktivitas tersebut, terdapat cerita tentang kehidupan masyarakat yang berusaha bertahan dengan mengandalkan sumber penghasilan yang tersedia di sekitar mereka.
Bagi sebagian masyarakat, tambang rakyat telah menjadi bagian dari mata pencaharian. Aktivitas tersebut tidak hanya melibatkan pemilik gelondong dan tong, tetapi juga buruh pengolahan, penambang, pemecah batu, penyortir material, hingga ojek batu yang mengangkut material dari lokasi tambang menuju tempat pengolahan.
Rantai aktivitas tersebut kemudian membentuk perputaran ekonomi masyarakat. Batu yang diambil dari lokasi tambang harus diangkut oleh ojek, kemudian masuk ke proses pengolahan menggunakan gelondong atau tong. Dari setiap tahapan itu, terdapat masyarakat yang memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di Desa Lamunga, persoalan mata pencaharian menjadi salah satu cerita yang cukup kuat. Sejumlah warga yang ditemui WPS menyampaikan bahwa pilihan pekerjaan masyarakat tidak selalu banyak. Aktivitas bercocok tanam pun menghadapi kendala, terutama ketika musim hujan tidak datang sesuai harapan.
Bagi masyarakat yang mengandalkan pertanian, air hujan menjadi faktor penting. Ketika hujan tidak turun, kegiatan bercocok tanam menjadi sulit dan hasil pertanian juga tidak dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan utama. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat kemudian menggantungkan penghasilan dari aktivitas tambang rakyat.
Dengan demikian, keberadaan gelondong, tong, hingga aktivitas pengangkutan batu bukan hanya menciptakan kegiatan di lokasi pengolahan. Ada perputaran ekonomi yang lebih luas: dari penambang, pemilik modal, pemilik mesin, buruh, ojek batu, hingga masyarakat sekitar yang ikut memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut.
Bagi seorang pekerja, hasil yang diperoleh dari tambang dapat digunakan untuk membeli kebutuhan dapur. Bagi ojek batu, setiap perjalanan mengangkut material menjadi sumber pendapatan. Sementara bagi pemilik gelondong dan tong, aktivitas pengolahan menjadi usaha yang membutuhkan modal sekaligus memiliki risiko ketika material yang diolah tidak menghasilkan sebagaimana yang diharapkan.
Ketika satu karung batu ternyata tidak menghasilkan emas atau hasilnya sangat sedikit, kerugian dapat langsung dirasakan. Namun ketika hasil pengolahan memberikan keuntungan, uang tersebut kembali berputar di tengah masyarakat melalui pembayaran upah, jasa angkutan, kebutuhan operasional, hingga kebutuhan rumah tangga.
Di sinilah tambang rakyat memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang lebih luas. Bukan hanya pemilik tambang yang bergantung pada aktivitas tersebut, tetapi ada banyak mata pencaharian lain yang ikut bergerak di belakangnya.
Meski demikian, aktivitas tersebut tetap memiliki berbagai persoalan yang tidak dapat diabaikan. Risiko keselamatan kerja, debu dari proses pengolahan, penggunaan bahan kimia, serta persoalan lingkungan dan regulasi menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi masyarakat.
Bagi penambang kecil dan pekerja, persoalan tersebut berada di antara kebutuhan untuk mencari nafkah dan keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih aman dan layak. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga, tetapi pada saat yang sama juga membutuhkan kepastian mengenai masa depan aktivitas ekonomi yang menjadi sandaran hidup mereka.
Liputan WPS Menelusuri dilaksanakan pada 7 September 2026, dengan menyambangi sejumlah titik aktivitas masyarakat di Lamunga dan Perjuk serta mendengarkan langsung cerita warga mengenai kehidupan mereka di sekitar tambang rakyat.
Sejumlah narasumber turut memberikan pandangan dalam liputan ini, yakni Rio dan rekannya sebagai warga Perjuk, Kepala Lingkungan Perjuk Darmansyah, Tokoh Masyarakat Perjuk Tono, Zainuddin alias Embang sebagai warga Desa Lamunga, serta Baharuddin sebagai Tokoh Masyarakat Desa Lamunga.
Para narasumber juga menjelaskan bahwa bagi sebagian masyarakat, tambang rakyat merupakan mata pencaharian yang saat ini sulit ditinggalkan, terutama ketika sumber penghasilan lain belum mampu memberikan kepastian.
Kondisi di Lamunga menjadi salah satu gambaran. Ketika masyarakat tidak dapat sepenuhnya mengandalkan kegiatan bercocok tanam karena keterbatasan air dan ketergantungan terhadap hujan, aktivitas tambang kemudian menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarga.
Persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat bekerja di tambang atau tidak. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana masyarakat dapat memperoleh mata pencaharian yang aman, berkelanjutan, dan tetap mampu memenuhi kebutuhan keluarga, tanpa mengabaikan keselamatan, lingkungan, maupun aturan yang berlaku.
Melalui sudut pandang kemanusiaan, WPS mencoba menghadirkan realitas tersebut secara lebih utuh. Karena di balik gelondong yang berputar, tong yang bekerja, dan ojek yang mengangkut batu, terdapat manusia yang sedang mempertahankan kehidupan.
Ini bukan sekadar cerita tentang emas. Ini adalah cerita tentang mata pencaharian, perputaran ekonomi, dan harapan masyarakat untuk tetap bertahan hidup.(Aidil/WPS)
WPS Menelusuri — Sudut Pandang Kemanusiaan.
Berita Terkait

HUT RI KE-81, KING MEDIA BANGSA: MERDEKA DENGAN INTEGRITAS DAN PROFESIONALISME
King Media Bangsa memperkuat jaringan media Wajah Pulau Sumbawa dengan mengedepankan integritas, profesionalisme, independensi, dan keberimbangan dalam menjalankan kerja jurnalistik.

Inisiatif Pemuda Sumbawa Barat, Wajah Pulau Sumbawa Resmi Diluncurkan sebagai Media Siber Penjaga Cerita dan Jati Diri Tau Samawa
Wajah Pulau Sumbawa resmi diluncurkan sebagai media siber di bawah PT King Media Bangsa, inisiatif pemuda Sumbawa Barat untuk mengangkat informasi, budaya, sejarah, dan jati diri Tau Samawa.
Komentar
Memuat komentar…
