Hukum & Kriminal

BABAK BARU: KISAH LENGKAP DUGAAN ABORSI DAN KONFLIK RUMAH TANGGA OKNUM POLISI DI SUMBAWA BARAT

Wazira, yang disebut sebagai korban, mengungkap dugaan tekanan dan aborsi. Jejak percakapan turut memuat keterangan mengenai sosok bidan yang disebut berkaitan dengan persoalan tersebut.

R
Redaksi
Redaksi · 25 September 2026 pukul 14.44 WITA
BABAK BARU: KISAH LENGKAP DUGAAN ABORSI DAN KONFLIK RUMAH TANGGA OKNUM POLISI DI SUMBAWA BARAT
Jejak percakapan menjadi bagian dari informasi yang diterima WPS terkait dugaan aborsi yang menyeret oknum polisi di Sumbawa Barat. Wazira memberikan keterangan pada 24 September 2026 sambil menangis.— Foto : Istimewa
SUMBAWA BARAT, WPS- — BABAK BARU: KISAH LENGKAP DUGAAN ABORSI DAN KONFLIK RUMAH TANGGA OKNUM POLISI DI SUMBAWA BARAT

Setahun Berlarut, Wazira Menangis Buka Cerita: Tekanan Ekonomi, Dugaan Aborsi, Tiga Pil, Jejak Chat hingga Laporan Propam

Kasus yang sebelumnya sempat viral dan menjadi perhatian publik kini memasuki babak baru. Persoalan ini menyeret nama A, Briptu AR, anggota Polri yang tercatat sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Jereweh, Polres Sumbawa Barat.

Pada 24 September 2026, tim WPS (Wajah Pulau Sumbawa) menghubungi Wazira secara langsung untuk meminta keterangan mengenai persoalan yang menurut keterangannya telah berlangsung sekitar satu tahun.

Dalam komunikasi tersebut, Wazira membuka kembali rangkaian kehidupan rumah tangganya setelah menikah, mulai dari kondisi ekonomi, persoalan utang, kebutuhan rumah tangga dan keluarga, persoalan tempat tinggal, hingga persoalan kehamilan yang kemudian berkembang menjadi dugaan aborsi.

Saat memberikan keterangan kepada tim WPS pada 24 September 2026, Wazira menangis dan tidak kuasa menahan emosinya. Ia menceritakan berbagai persoalan yang menurut pengakuannya telah dialami selama menjalani kehidupan rumah tangga.

BERAWAL DARI KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH

Menurut keterangan Wazira:

“Alasan aborsi ini karena suami nggak siap untuk punya anak. Karena keadaan ekonominya sedang tidak baik-baik saja. Secara kehidupan finansial memang suami saya ini terkadang memberi gaji ke saya. Kalau gajinya sudah ada, dikasih. Itu pun terkadang orang nagih hutangnya suami ke saya. Nah, kalau gajinya habis dipakai bayar hutang dia ke orang, yang menafkahi itu saya.”

Wazira mengaku kondisi ekonomi menjadi salah satu persoalan utama dalam rumah tangga. Ia menyebut penghasilan suaminya kerap habis untuk membayar utang, sehingga kebutuhan rumah tangga kemudian banyak ditanggung olehnya.

Wazira juga mengaku turut membantu kebutuhan keluarga, termasuk persoalan biaya pengobatan kakaknya.

Persoalan tersebut kemudian disebut semakin kompleks ketika muncul masalah terkait tempat tinggal di asrama Polres. Wazira mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp15 juta, yang menurut keterangannya disebut sebagai pembayaran penggantian atau ganti rugi kepada pemilik sebelumnya.

TEKANAN LINGKUNGAN DAN PERSOALAN KEHAMILAN

Di tengah kondisi tersebut, muncul persoalan kehamilan.

Wazira mengaku tidak menerima keputusan untuk menggugurkan kandungan. Menurut keterangannya, ketidaksiapan memiliki anak dan kondisi ekonomi yang sedang sulit menjadi alasan yang disebut dalam persoalan tersebut.

Wazira juga menyebut adanya tekanan dari lingkungan pertemanan satu letting. Ia mengaku mengalami intimidasi dan teror hingga merasa berada dalam tekanan berat.

Menurut keterangannya, pengalaman seorang teman satu letting yang disebut pernah melakukan aborsi juga ikut menjadi bagian dari pembicaraan mengenai keputusan tersebut.

Wazira menggambarkan dirinya seperti terus didesak dan ditekan untuk mengikuti keputusan mengenai kehamilan tersebut.

JEJAK CHAT DAN SOSOK BIDAN

Keterangan Wazira juga mengarah pada adanya pihak lain yang disebut berkaitan dengan persoalan tersebut.

Dalam percakapan yang diterima tim WPS, disebut seorang perempuan yang berprofesi sebagai bidan dan pernah satu kos di Mataram.

Menurut keterangan yang diperoleh, bidan tersebut disebut sebagai pihak yang mengetahui atau pernah membantu dalam persoalan yang berkaitan dengan kehamilan dan dugaan aborsi.

Dalam percakapan tersebut juga muncul keterangan mengenai teman-teman satu letting yang disebut pernah mendapatkan bantuan serupa. Bahkan disebut bahwa sudah ada dua teman yang pernah dibantu.

Rangkaian percakapan tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang disampaikan Wazira kepada tim WPS mengenai dugaan adanya tekanan dan bantuan dari lingkungan sekitar dalam keputusan untuk menggugurkan kandungan.

TIGA PIL YANG DISEBUT BERKAITAN DENGAN ABORSI

Wazira juga menyampaikan kepada tim WPS adanya tiga pil obat yang menurut keterangannya diminta untuk digunakan dalam upaya menggugurkan kandungan.

Persoalan tiga pil tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam cerita Wazira, terutama mengenai bagaimana obat tersebut diperoleh dan siapa saja yang mengetahui proses tersebut.

LAPORAN PROPAM DAN STATUS LIDIK

Persoalan ini juga memiliki jejak dalam sistem pelaporan Propam Polri.

Data pelaporan yang diperoleh tim WPS menunjukkan terlapor sebagai A, Briptu AR, dengan jabatan Bhabinkamtibmas Polsek Jereweh, Polres Sumbawa Barat, dan fungsi pada Polda Nusa Tenggara Barat.

Dalam sistem, laporan tersebut tercatat berstatus “Lidik”. Posisi laporan tercantum pada Kanit Paminal Polres Sumbawa Barat, Polda Nusa Tenggara Barat.

Kategori laporan tercantum “Perilaku & Integritas Personel”, sedangkan subkategorinya “Kehidupan Keluarga, Kewajiban Domestik & Tanggung Jawab Pribadi.”

Dalam percakapan dengan Wazira yang turut diterima tim WPS, terdapat pernyataan:

“Baru naik status lidik setelah viral.”

Pernyataan tersebut merupakan keterangan Wazira mengenai perkembangan laporan yang ia pantau.

BABAK BARU, KISAH YANG BELUM SELESAI

Kini, persoalan yang sebelumnya viral kembali memasuki babak baru.

Pada 24 September 2026, tim WPS (Wajah Pulau Sumbawa) secara langsung menghubungi Wazira untuk menggali keterangan mengenai seluruh rangkaian persoalan tersebut.

Di hadapan tim WPS, Wazira menyampaikan ceritanya sambil menangis. Ia mengaku telah lama menanggung berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangganya, mulai dari tekanan ekonomi, utang, kebutuhan keluarga, tekanan lingkungan satu letting hingga persoalan kehamilan dan dugaan aborsi.

Dari kehidupan setelah menikah, persoalan ekonomi dan utang, tekanan lingkungan, dugaan intimidasi dan teror, kehamilan, dugaan aborsi, tiga pil, jejak percakapan, sosok bidan yang disebut dalam percakapan, hingga laporan terhadap A, Briptu AR, seluruh rangkaian tersebut kini kembali menjadi perhatian.

Babak baru ini bukan sekadar mengulang perkara yang pernah viral. Ini adalah kisah lengkap dari sisi Wazira mengenai persoalan yang menurut pengakuannya telah berlangsung sekitar satu tahun.

Kini, persoalan tersebut tercatat dalam sistem Propam Polri dengan status “Lidik”.

Di balik seluruh rangkaian cerita tersebut, masih tersisa pertanyaan besar mengenai bagaimana keputusan mengenai kehamilan itu terjadi, bagaimana tekanan yang disebut Wazira berlangsung, siapa saja yang disebut mengetahui atau membantu, serta bagaimana proses penanganan terhadap A, Briptu AR, akan berjalan selanjutnya.(Tim/Wps)

Berita Terkait

Komentar

Komentar dimoderasi sesuai pedoman media siber.

Memuat komentar…