Asal-Usul Barampok Adat Samawa, Konon Arena Mencari Jawara Pengawal Kerajaan
Barampok merupakan tradisi adu keberanian masyarakat Tau Samawa yang erat dengan suasana panen. Di balik pertarungan, tersimpan nilai sportivitas, persaudaraan, dan cerita tentang para jawara.

SUMBAWA BARAT, WPS — Barampok atau Barempuk merupakan salah satu tradisi masyarakat Tau Samawa yang tidak hanya memperlihatkan kekuatan fisik, tetapi juga menyimpan nilai keberanian, sportivitas, persaudaraan dan kebersamaan.
Tradisi ini secara turun-temurun dikenal sebagai permainan adu pukul antara dua laki-laki. Mereka saling berhadapan dengan tangan yang menggenggam atau dibalut tangkai padi dan jerami. Pertarungan biasanya berlangsung dalam suasana ramai, terutama ketika masyarakat sedang merayakan musim panen.
Dalam kehidupan masyarakat agraris Sumbawa, Barampok menjadi bagian dari perayaan setelah bekerja di sawah. Tradisi tersebut hadir sebagai hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat.
Namun, Barampok juga memiliki cerita lain yang berkembang di tengah masyarakat. Konon, pada masa kerajaan, arena Barampok tidak hanya menjadi tempat menguji kekuatan. Para jawara yang menunjukkan keberanian dan kemampuan disebut-sebut dapat dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari pengawal kerajaan.
Cerita tersebut merupakan riwayat tutur yang berkembang di masyarakat, sehingga tidak dapat diposisikan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi sepenuhnya. Meski demikian, kisah itu memperlihatkan bagaimana Barampok sejak dahulu dipandang sebagai ruang untuk menguji keberanian dan ketangguhan seorang laki-laki.
Dalam pelaksanaannya, Barampok memiliki aturan. Peserta tidak diperbolehkan menggigit, harus tetap menggenggam tangkai padi pada kedua tangan, dan sasaran pukulan dibatasi pada bagian tubuh tertentu. Ketika pertarungan dihentikan, peserta tidak diperbolehkan melanjutkan serangan.
Hal yang menarik, pertarungan tidak berakhir dengan permusuhan. Setelah berada di luar arena, para peserta kembali sebagai saudara dan bagian dari masyarakat yang sama. Nilai inilah yang membuat Barampok tidak sekadar dipahami sebagai adu fisik.
Seiring perubahan zaman, Barampok terus mengalami perkembangan. Jika dahulu erat dengan suasana panen dan kehidupan masyarakat agraris, kini tradisi tersebut juga hadir dalam berbagai kegiatan budaya dan perayaan masyarakat Sumbawa.
Barampok pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling kuat. Di balik pukulan dan sorak penonton, terdapat warisan nilai tentang keberanian, harga diri, sportivitas, kebersamaan dan persaudaraan yang terus diwariskan oleh masyarakat Tau Samawa.(Aidil/Wps)
Sumber: I Made Purna, Nuryahman & I Putu Putra Kusuma Yudha, Inventarisasi Karya Budaya Tradisi Barempuk di Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 2019, BPNB Bali/Kepel Press. Riwayat tentang Barampok sebagai arena pencarian jawara dan pengawal kerajaan merupakan cerita yang berkembang di masyarakat dan diberitakan dalam sejumlah sumber lokal.
Wajah Pulau Sumbawa (WPS) — Suara Sumbawa untuk Negeri.
Galeri Foto



Berita Terkait

Bukan Menghakimi, Polsek Taliwang Pilih Menuntun: Tujuh Siswa SMAN 2 Masuk Pembinaan
Polsek Taliwang mengambil langkah pembinaan terhadap tujuh siswa SMAN 2 Taliwang. Pesan Kapolsek tentang masa depan generasi muda menjadi sorotan dalam upaya pendampingan tersebut.

Jutaan Tahun Terkubur di Perut Bumi Sumbawa, Batu Hijau Menulis Babak Baru Pertambangan
Batu Hijau menjadi bagian dari perjalanan panjang pertambangan di Sumbawa Barat. Dari penemuan deposit tembaga dan emas hingga hadirnya teknologi pertambangan modern, kisahnya terus berkembang dari masa ke masa.

Siapakah Baham? Menelusuri Jejak Pejuang Lunyuk yang Nyaris Terlupakan
Sejarah Pahlawan Tanah Samawa
Komentar
Memuat komentar…
