Pendidikan

Siapakah Baham? Menelusuri Jejak Pejuang Lunyuk yang Nyaris Terlupakan

Sejarah Pahlawan Tanah Samawa

AF
Aidil Fanar
Redaksi · 4 Agustus 2026 pukul 19.44 WITA
Siapakah Baham? Menelusuri Jejak Pejuang Lunyuk yang Nyaris Terlupakan
Ilustrasi perjuangan rakyat Nusantara melawan kolonial Belanda. Gambar digunakan sebagai visual pendukung dan bukan dokumentasi asli Perang Baham di Lunyuk.— Istimewa Ilustrasi

LUNYUK – Hamparan hutan, perbukitan, dan lembah yang membentang di wilayah Lunyuk hari ini terlihat tenang. Sulit membayangkan bahwa lebih dari seabad lalu, kawasan ini pernah menjadi saksi perjuangan rakyat yang memilih melawan kekuasaan kolonial Belanda. Di antara nama-nama yang tercatat dalam sejarah perlawanan di Pulau Sumbawa, terdapat seorang tokoh yang kini mulai jarang disebut, yaitu Baham.

Ketika kebijakan kolonial Belanda mulai menjangkau pedalaman Pulau Sumbawa pada awal abad ke-20, kehidupan masyarakat berubah. Berbagai aturan baru diberlakukan, termasuk penarikan pajak dan penguatan kontrol pemerintahan kolonial di daerah. Bagi sebagian masyarakat Lunyuk, kebijakan tersebut dianggap memberatkan dan mengancam kehidupan mereka.

Dalam situasi itulah Baham muncul sebagai salah seorang pemimpin yang memilih melakukan perlawanan. Bersama masyarakat Lunyuk, ia menggalang kekuatan untuk menghadapi pemerintahan kolonial. Dengan persenjataan yang sederhana dan dukungan masyarakat setempat, kelompok ini memanfaatkan kawasan hutan dan perbukitan sebagai tempat bertahan sekaligus menyusun strategi. Sejumlah catatan sejarah menyebut kawasan Gunung Setia sebagai salah satu lokasi yang menjadi bagian dari basis perjuangan mereka.

Perlawanan yang berlangsung sekitar tahun 1906–1907 itu memperlihatkan tekad masyarakat Lunyuk untuk mempertahankan wilayahnya. Namun, di hadapan pasukan kolonial yang memiliki perlengkapan militer lebih lengkap, perjuangan tersebut akhirnya dapat dipatahkan. Baham ditangkap dan kemudian diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat.

Pembuangan tidak menghentikan semangatnya. Setelah kembali ke Pulau Sumbawa pada tahun 1923, Baham kembali menghimpun kekuatan rakyat. Ia tidak berjuang seorang diri. Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa ia didampingi beberapa tokoh lain yang ikut melanjutkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Mereka kembali bergerak dari wilayah pedalaman Lunyuk, mempertaruhkan keselamatan demi mempertahankan tanah kelahiran mereka.

Perjuangan itu berakhir dalam sebuah pertempuran. Baham gugur, sementara sebagian pengikutnya mengalami penangkapan dan pembuangan. Meski demikian, kisah perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah panjang perlawanan rakyat Sumbawa terhadap penjajahan.

Ironisnya, nama Baham kini tidak sepopuler tokoh-tokoh perlawanan lainnya. Hingga hari ini, belum ditemukan foto autentik yang dapat dipastikan sebagai wajahnya. Tidak banyak arsip yang mengisahkan kehidupan pribadinya. Bahkan, sebagian besar masyarakat di luar Lunyuk mungkin belum pernah mendengar namanya.

Yang masih tersisa hanyalah catatan sejarah, cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta jejak-jejak yang diyakini berkaitan dengan perjuangannya. Di tengah keterbatasan dokumentasi tersebut, sosok Baham tetap menjadi bagian penting dari sejarah Lunyuk dan Pulau Sumbawa.

Mengenang Baham bukan sekadar mengingat seorang tokoh masa lalu. Lebih dari itu, kisahnya mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan tanah kelahiran tidak hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dikenal secara nasional, tetapi juga oleh para pejuang daerah yang rela mengorbankan kebebasan, bahkan nyawanya, demi keyakinan dan masa depan masyarakatnya.


Sumber:

  • Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Arsip sejarah Hindia Belanda yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
  • Literatur sejarah lokal mengenai Perang Baham di Lunyuk.

Galeri Foto

Berita Terkait

Komentar

Komentar dimoderasi sesuai pedoman media siber.

Memuat komentar…